Tragedi Outbound

TRAGEDI OUTBOUND

oleh : Agustinus Susanta

http://bahasa.kompasiana.com

 
images (29)Siapa yang pernah mengikuti kegiatan outbound? Saya yakin banyak yang pernah mengikutinya. Walau pernah atau bahkan sering mengikuti outbound, tahukah kita apasih sebenarnya outbound itu? Dalam buku “Merancang Outbound Training Profesional” tertulis bahwa outbound adalah metode pengembangan potensi diri melalui rangkaian kegiatan simulasi/ permainan/ dinamika, yang memberi pembelajaran melalui pengalaman langsung. Tak kalah dahsyat definisi lain yang saya temukan dalam salah satu artikel kompasiana; “outbound adalah kegiatan belajar yang dikemas dalam bentuk permainan yang dilakukan di luar ruangan, dengan tujuan untuk mengembangkan karakter dan pola pikir seseorang.” Wow, hebat sekali outbound ituya?
Tapi tunggu dulu, coba kita cari pengertian “outbound” dalam Kamus Bahasa Indonesia; ah, ternyata tidak ada. Mungkin kita akan berpikir “wajar dong, outbound itu kan suatu kata dalam Bahasa Inggris.” Baiklah, kini carilah apa arti “outbound” dalam Bahasa Inggris; ternyata artinya “meninggalkan, pergi keluar, atau arah keluar.” Outbound bisa juga berarti melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Dalam dunia pariwisata, outbound bahkan diartikan sebagai melakukan perjalanan wisata ke luar negeri.
Lho, kok arti outbound dalam Bahasa Inggris berbeda sekali pemahamannya dengan yang beredar di Indonesia. Apa hubungan antara “arah keluar” dengan “metode pengembangan diri” apalagi dengan “wisata ke luar negeri?” Kenapa di Indonesia, kata “outbound” bisa dipahami sebagai metode pembelajaran di luar ruang? Tenang, saya punya jawabannya.
Semua berawal ketika pada tahun 1990an, “Outward Bound International” membuka cabang “Outward Bound Indonesia” yang bermarkas di tepi Waduk Jatiluhur Purwakarta. Lembaga ini bertujuan mengembangkan karakter peserta melalui rangkaian kegiatan experiential learning yang berbasis pada petualangan di alam terbuka. Experiential learning adalah proses pembelajaran yang berbasis pada pengalaman peserta. Program “Outward Bound Indonesia” bisa berupa permainan, petualangan, bermain tali di ketinggian, berperahu di waduk, mendaki gunung, berkemah, dan sebagainya.
Masyarakat sekitar Waduk Jatiluhur, susah melafalkan kata “Outward Bound” dan lebih mudah menyebutnya “outbon, outbound, otbond, outbond, atau otbon.” Kata “outbound” selain mudah diucapkan, juga berkesan luar negeri; cocok dengan selera sebagian masyarakat kita. Karena faktor itulah lalu masyarakat Indonesia mulai mengenal kosa kata “outbound” yang identik dengan kegiatan pelatihan di alam terbuka.
Apa yang Keliru?
Sejauh ini penggunaan kata “outbound” dalam masyarakat kita tidak bermasalah, walaupun dalam Bahasa Indonesia kata tersebut sebenarnya tidak punya makna. Namun, bagi sebagian teman-teman yang bergiat dalam kegiatan experiential learning, hal tersebut menjadi masalah prinsip. Semakin mereka tahu sejarah melegendanya kata “outbound,” biasanya makin kritis pula mereka menyuarakan agar kita menggunakan istilah yang tepat.
Diskusi dan perdebatan mengenai penggunaan kata “outbound,” khususnya di kalangan pegiat experiential learning di Indonesia akan selalu menarik. Saya tahu persis dinamika ini karena kebetulan saya menjadi moderator grup “AELI/ Asosiasi Experiential Learning Indonesia” di salah satu jejaring sosial. Anggota grup ini ratusan orang dan profesinya beragam, termasuk sebagian besar mantan fasilitator Outward Bound Indonesia.
Pada bulan Mei 2012 saya mengadakan jajak pendapat pada para anggota Grup AELI tentang kata “outbound.” Sebelum menjawab pertanyaan, pada anggota grup disajikan 3 artikel yang menjelaskan tentang sejarah kata “outbound.” Lebih kurang sejarahnya seperti yang sudah saya tuliskan tadi. Pertanyaan jajak pendapat tersebut sederhana. “Setelah tahu sejarah kata ‘outbound,’ bagaimana pilihan sikap kita terhadap kata ‘outbound’ tersebut?” Empat hasil jawaban dari pertanyaan tersebut adalah:
  1. Berusaha menjelaskan hubungan kata “outbound” dengan experiential learning, dipilih oleh 45% suara
  2. Berusaha memberi makna pada kata “outbound,” dipilih oleh 32% suara
  3. Berusaha menghindari kata “outbound,” dipilih oleh 20% suara, dan
  4. Sejujurnya saya tidak peduli, dipilih oleh 2% suara
Komposisi jawaban tersebut menggambarkan bahwa di antara teman-teman yang sudah tahu sejarah kata outbound saja, hanya seperlimanya saja yang akan tegas berusaha menghindari kata “outbound.” Sepertiganya akan “nekat” memberi makna pada kata “outbound” padahal mereka sadar bahwa selama ini sebenarnya “outbound” itu tidak punya definisi. Dugaan saya, hal tersebut terjadi karena sudah demikian lekatnya persepsi outbound dengan kegiatan di alam terbuka, sehingga tampaknya akan sia-sia untuk menggugatnya.
Diskusi tentang penggunaan kata “outbound” tambah menarik ketika salah seorang anggota Grup AELI yang kebetulan bekerja Boston, Amerika Serikat, mengirimkan foto yang berhubungan dengan “outbound.” Foto tersebut memperlihatkan sang teman sedang berdiri di depan papan petunjuk sebuah stasiun kereta api bawah tanah diNorth Quincy. Sebagai latar belakang ada papan petunjuk perjalanan di mana ada tulisan besar-besar “Track 2 Outbound / Braintree.” Ternyata “outbound” dalam petunjuk tersebut berarti “arah keluar” dari Kota Boston menuju Kota Braintree yang ada di pinggiran Kota Boston. Sebaliknya, jika dari Stasiun Braintree hendak ke North Quincy, harus naik kereta jalur “inbound” yang menuju pusat kota.
Siapa mau outbound? ikuti jalur ini

Mengurai Tragedi

Tragedi penggunaan kata “outbound” berasal dari masuknya program asing ke Indonesia. Istilah asing yang sulit disebut lalu dilafalkan dan ditulis dengan cara yang lebih mudah. Celakanya, kata yang awalnya disebutkan secara lokal saja lalu menyebar ke seluruh Indonesia, sekaligus dengan pemaknaan barunya. Dalam bidang lain, misalnya ekonomi, kesehatan, teknologi informasi, atau kesenian, mungkin saja kita juga menemukan kasus serupa. Sebuah istilah yang penamaannya belum baku, tetapi terlanjur digunakan secara massal dalam masyarakat.
Bagi kita yang masih galau apakah mau tetap menggunakan kata yang populer tapi keliru tadi, atau memilih tetap menggunakan versi aslinya, baik juga merenungkan pendapat teman saya yang berfoto di stasiun bawah tanah tadi. Sah-sah saja kita mau menggunakan istilah apa, tapi mohon dipikirkan sejauh mana kita mau bergaul. Kalau kita dari awal membatasi tingkat interaksi kita sekedar lokal saja, sebutan “outbond” atau “outbound” sudah sah dan diterima. Namun kalau kita mau sedikit menerawang sejauh mana kita mau memperlebar dimensi dan wawasan kita, misalnya referensi ilmu, koneksi dengan fasilitator luar negeri, kerjasama lintas negara, dan lain-lain. Maka sikap kita terhadap salah kaprah “outbound” di masyarakat perlu dipikirkan lagi. Kita bebas menentukan pilihan sekaligus menghormatinya.
 Kini, siapa yang masih mau ikut outbound? Silakan, di sana arah jalan keluarnya.
http://bahasa.kompasiana.com/2012/09/09/tragedi-outbound/#comment

2 responses to “Tragedi Outbound

  1. Ridwan Jon Pilie

    outbound seminggu full kantong tebal….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s